Kamis, 03 November 2016

Membangun Komunitas Belajar di Sekolah

Judul buku : Tips Membangun Komunitas Belajar di Sekolah
Pengarang : Jamal Ma’mur Asmani
Jumlah Halaman : 222 halaman
Penerbit : DIVA Press
Tahun Terbit : 2014
ISBN : 978-602-296-073-7






Selama ini proses belajar dan mengajar di sekolah cenderung membosankan. Siswa lebih banyak duduk pasif atau sebagai obyek semata. Perilaku para pelajar baik di sekolah maupun di rumah yang tidak memiliki orientasi hidup, tekad, cita-cita, tanggung jawab, gairah untuk membangun masa depannya. Semangat belajar telah luntur. Usaha-usaha untuk mengembalikan semangat belajar mereka seolah-seolah menghadapi tembok yang sangat besar.

Untuk itu, digagas adanya komunitas belajar untuk membangkitkan semangat belajar para generasi penerus bangsa ini. Komunitas belajar ini berisi kumpulan orang-orang yang mau belajar bersama tanpa membeda-bedakan derajat dan martabatnya masing-masing. Di sana mereka saling berbagi pengetahuan, yang pandai mengajari yang belum pandai. Yang belum pandai pun tidak malu untuk bertanya, mengkritisi dan melakukan berbagai hal untuk mengejar ketertinggalannya.

Ide komunitas belajar ini terinspirasi dari kesuksesan lembaga kursus, seperti kursus bahasa Inggris yang ada di Pare (Kediri) dan Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Salatiga.  Ide komunitas belajar ini juga terinspirasi dari pondok pesantren tradisional, seperti Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dan Pondok Pesantren Sarang Rembang.

Secara lengkap buku ini terdiri dari 10 bab
Bab 1 Pendahuluan
Bab 2 Pembelajaran yang membosankan
Bab 3 Pentingnya komunitas belajar
Bab 4 Komunitas belajar serta keseimbangan otak kanan dan kiri
Bab 5 Kualifikasi guru komunitas belajar
Bab 6 Kendala-kendala yang dihadapi dalam membangun komunitas belajar
Bab 7 Kiat sukses membangun komunitas belajar di sekolah
Bab 8 Profil sekolah yang sukses membangun komunitas belajar'
Bab 9 Belajar cemerlang, prestasi gemilang
Bab 10 Penutup

Disebutkan dalam bab 5 bahwa kualifikasi guru yang dibutuhkan dalam komunitas belajar meliputi guru sebagai sosok ilmuwan, educator, organisator, motivator, dinamisator, inovator, dan sosok evaluator. Guru-guru dalam komunitas belajar bukanlah sekedar menjadi guru yang hanya bertugas menyampaikan ilmu, tetapi lebih dari itu.

Dalam bab 8 disebutkan contoh-contoh sekolah yang sukses membangun komunitas belajar, seperti Madrasah Hidayatul Mubtadiin, Madrasah Ghazaliyah Syafi'iyah (MQS), Perguruan Islam darus Falah Sirahan, Madrasah Tsanawiyah Luthful Ulum dan Madrasah Al-Aqobah. Kita bisa banyak belajar dari sekolah-sekolah tersebut untuk membangun komunitas belajar di lingkungan kita masing-masing. Semangat dan prestasi tinggi menjadi kunci dalam pembangunan komunitas belajar ini.

Untuk lebih jelasnya, silahkan baca buku "Tips Membangun Komunitas Belajar di Sekolah" yang ditulis oleh Jamal Ma'mur Asmani ini.

Salam baca buku.


Rabu, 02 November 2016

STRATEGI BELAJAR-MENGAJAR DI KELAS

STRATEGI BELAJAR-MENGAJAR DI KELASJudul Buku : Strategi Belajar-Mengajar di Kelas
Penulis :
1. Nur Hamiyah, S.Pd
2. Mohammad Jauhar, S.Pd
Penerbit : Prestasi Pustakaraya
Tahun Tertib : 2014 (Cetakan pertama)
Halaman : x + 294
ISBN : 978-602-256-027-2




Buku “Strategi Belajar-Mengajar di Kelas” ini saya dapatkan di perpustakaan sekolah.  Melalui buku ini, saya disadarkan kembali tentang tugas guru yang bukan sekedar  menyampaikan materi pelajaran. Seorang guru, juga harus mampu menciptakan suasana belajar yang baik serta mempertimbangkan  penggunaan metode dan strategi sesuai dengan materi pelajaran maupun keadaan anak didik.

Dalam tulisan ini, saya ambilkan contoh pembahasan mengenai strategi  guru pada pembelajaran. Strategi yang dimaksud meliputi keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan membuka pelajaran, keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya, ketrampilan memberikan penguatan, ketrampilan menggunakan variasi, dan strategi dalam mengaktifkan kelas.

Dalam membuka pelajaran, ada beberapa cara yang bisa dilakukan guru seperti (1) menarik perhatian siswa; (2) memotivasi siswa; (3) memberikan acuan/struktur pelajaran; (4) mengaitkan topik yang dikuasai dengan topik baru; dan (5) menguasai situasi kelas. Dalam membuka pelajaran guru berpegang pada prinsip-prinsip sebagai berikut seperti prinsip bermakna, prinsip kontinu (berkesinambungan), fleksibel, antusiame dan hangat dalam mengkomunikasikan  gagagan, serta berpegang pada prinsip-prinsip teknis penggunaan keterampilan membuka pelajaran.

Prinsip penggunaan ketrampilan menjelaskan dapat dilakukan, antara lain :
1) Penjelasan di awal, tengah, atau akhir pembelajaran.
2) Penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
3) Penjelasan tidak selalu diperlukan untuk semua topik/bahan pelajaran
4) Penjelasan menyesuaikan dengan latar belakang siswa

Komponen ketrampilan bertanya, antara lain meliputi : (1) Kejelasan dan kaitan pertanyaan, serta (2) kecepatan atau selang waktu (pause).  Pemberian waktu terhadap kesempatan berpikir siswa perlu diperhatikan. Dengan adanya pemberian waktu ini memberikan pengaruh misalnya, siswa dapat membetikan jawaban yang lebih panjang dan lengkap, siswa lebih yakin akan jawabannya bahkan sampai meningkatkan partisipasi siswa.

Ketrampilan memberikan penguatan yang baik bisa menimbulkan sikap yang positif bagi siswa serta meningkatkan partisipasi siswa dalam  kegiatan pembelajaran. Ketrampilan memberikan penguatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknis menuntun (prompting question), teknik menggali (probing question) maupun teknik pemusatan (focusing question).

Selanjutnya ketrampilan menggunakan variasi.  Variasi ini diperlukan untuk mengurangi tingkat kejenuhan siswa. Variasi yang dimaksud meliputi  perubahan gaya belajar, mengubah pola interaksi maupun mengubah pola interaksi  dan berbagai hal lain agar pembelajaran lebih menyenangkan. Pemberian variasi ini dapat dilakukan dengan berprinsip : (1) tujuan pembelajaran, (2) kontinu dan fleksibel, (3) antusiasme dan hangat; serta (4) relevan dengan tingkat perkembangan peserta didik.

Terakhir, strategi mengaktifkan kelas.  Berbagai  strategi bisa dilakukan agar kelas lebih aktif/hidup. Misalnya menggunakan strategi learning starts with a question, everyone is a teacher here, the power of two, information search, snowballing, jigsaw learning, constructive arguing mauun card sort.

Secara lengkap dan detil  buku ini membahas : (1) Pengertian belajar-mengajar, (2) Pendekatan, strategi, metode, teknik dan model pembelajaran, (3)  Perencanaan pengajaran dan asesmen pelajaran, (4) Strategi pemecahan masalah (problem solving), (5) Klasifikasi strategi belajar mengajar, (6) Perencanaan strategi pengajaran, (7)  Berbagai pendekatan dalam belajar-mengajar, (8) Penggunaan media sumber belajar dalam proses belajar-mengajar, dan (9) Keberhasilan belajar-mengajar.

Untuk lebih jelasnya, baca saja buku yang berjudul “Strategi Belajar-Mengajar di Kelas”.
Salam baca buku.









Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik

Judul buku : Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik
Penulis : Dra. Tutik Rachmawati, M.Pd dan Drs. Daryanto
Penerbit : Gava Media Yogyakarta
Tahun Terbit : 2015 (Cetakan 1)
Halaman : x + 374 hal
ISBN : 978-602-7869-92-9

Teori Belajar dan Pembelajaran yang Mendidik ini adalah sebuah buku yang layak untuk dibaca oleh para guru, kepala sekolah, pengawas maupun pemerhati pendidikan khususnya berkenaan dengan kompetensi pedagogik. Kompetensi pedagogik pada dasarnya merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.
Ada 8 poin dalam Kompetensi Pedagogik, yaitu :
1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual.
2. Menguasi teori belajar dan prinsip-prinsip belajar yang mendidik.
3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu.
4. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.
5. Memanfaatkan teknologi informasi dan  komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.
6. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.

Dalam buku ini membahas bagian 2 dan 4, yaitu :
1. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran
2.Menciptakan kegiatan pembelajaran yang mendidik.
Dua hal tersebut yang akhirnya disatukan dalam buku berjudul "Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik".

Secara keseluruhan ada 10 bagian yang dikupas dalam buku tersebut, yaitu :
Bab 1 Kompetensi Pedagogik
Bab 2 Karakteristik Peserta Didik
Bab 3 Teori Belajar
Bab 4 Teknik Belajar Efektif
Bab 5 Pembelajaran yang Mendidik
Bab 6 Penyelenggaraan Pembelajaran
Bab 7 Pembelajaran Remidial
Bab 8 Pembelajaran Tuntas dan Pengayaan
Bab 9 Pembelajaran Bermakna
Bab 10 Mengajar, Melatih, dan Mendidik

Untuk bab 3 yang memuat teori belajar dijelaskan berbagai teori belajar, yaitu teori belajar behavioristik, teori belajar kognitif, teori belajar konstruktivistik, teori belajar humanistik, teori belajar sibernetik, dan teori belajar revolusi sosiokultural.

Dua teori pembelajaran terakhir ini, saya sendiri baru mendengarnya. Di buku itu juga dituliskan bahwa teori belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingan dengan teori belajar yang lain. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan infomasi. Menurut teori ini belajar merupakan pemrosesan informasi.  Sedangkan teori belajar revolusi sosiokultural setelah saya baca, yang dimaksud adalah teori belajar dari Vygotsky yang lebih tepat disebut sebagai pendekatan ko-konstruktivisme. Konsep-konsep penting dalam teori ini adalah genetic low of development, zona of proximal development, dan mediasi yang mampu membuktikan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial budaya dan sejarahnya.

Untuk lebih jelasnya, silakan baca buku mengenai Kompetensi Pedagogik yang berjudul "Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik" ini.

Salam baca buku.