Kamis, 03 November 2016

Membangun Komunitas Belajar di Sekolah

Judul buku : Tips Membangun Komunitas Belajar di Sekolah
Pengarang : Jamal Ma’mur Asmani
Jumlah Halaman : 222 halaman
Penerbit : DIVA Press
Tahun Terbit : 2014
ISBN : 978-602-296-073-7






Selama ini proses belajar dan mengajar di sekolah cenderung membosankan. Siswa lebih banyak duduk pasif atau sebagai obyek semata. Perilaku para pelajar baik di sekolah maupun di rumah yang tidak memiliki orientasi hidup, tekad, cita-cita, tanggung jawab, gairah untuk membangun masa depannya. Semangat belajar telah luntur. Usaha-usaha untuk mengembalikan semangat belajar mereka seolah-seolah menghadapi tembok yang sangat besar.

Untuk itu, digagas adanya komunitas belajar untuk membangkitkan semangat belajar para generasi penerus bangsa ini. Komunitas belajar ini berisi kumpulan orang-orang yang mau belajar bersama tanpa membeda-bedakan derajat dan martabatnya masing-masing. Di sana mereka saling berbagi pengetahuan, yang pandai mengajari yang belum pandai. Yang belum pandai pun tidak malu untuk bertanya, mengkritisi dan melakukan berbagai hal untuk mengejar ketertinggalannya.

Ide komunitas belajar ini terinspirasi dari kesuksesan lembaga kursus, seperti kursus bahasa Inggris yang ada di Pare (Kediri) dan Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Salatiga.  Ide komunitas belajar ini juga terinspirasi dari pondok pesantren tradisional, seperti Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dan Pondok Pesantren Sarang Rembang.

Secara lengkap buku ini terdiri dari 10 bab
Bab 1 Pendahuluan
Bab 2 Pembelajaran yang membosankan
Bab 3 Pentingnya komunitas belajar
Bab 4 Komunitas belajar serta keseimbangan otak kanan dan kiri
Bab 5 Kualifikasi guru komunitas belajar
Bab 6 Kendala-kendala yang dihadapi dalam membangun komunitas belajar
Bab 7 Kiat sukses membangun komunitas belajar di sekolah
Bab 8 Profil sekolah yang sukses membangun komunitas belajar'
Bab 9 Belajar cemerlang, prestasi gemilang
Bab 10 Penutup

Disebutkan dalam bab 5 bahwa kualifikasi guru yang dibutuhkan dalam komunitas belajar meliputi guru sebagai sosok ilmuwan, educator, organisator, motivator, dinamisator, inovator, dan sosok evaluator. Guru-guru dalam komunitas belajar bukanlah sekedar menjadi guru yang hanya bertugas menyampaikan ilmu, tetapi lebih dari itu.

Dalam bab 8 disebutkan contoh-contoh sekolah yang sukses membangun komunitas belajar, seperti Madrasah Hidayatul Mubtadiin, Madrasah Ghazaliyah Syafi'iyah (MQS), Perguruan Islam darus Falah Sirahan, Madrasah Tsanawiyah Luthful Ulum dan Madrasah Al-Aqobah. Kita bisa banyak belajar dari sekolah-sekolah tersebut untuk membangun komunitas belajar di lingkungan kita masing-masing. Semangat dan prestasi tinggi menjadi kunci dalam pembangunan komunitas belajar ini.

Untuk lebih jelasnya, silahkan baca buku "Tips Membangun Komunitas Belajar di Sekolah" yang ditulis oleh Jamal Ma'mur Asmani ini.

Salam baca buku.


Rabu, 02 November 2016

STRATEGI BELAJAR-MENGAJAR DI KELAS

STRATEGI BELAJAR-MENGAJAR DI KELASJudul Buku : Strategi Belajar-Mengajar di Kelas
Penulis :
1. Nur Hamiyah, S.Pd
2. Mohammad Jauhar, S.Pd
Penerbit : Prestasi Pustakaraya
Tahun Tertib : 2014 (Cetakan pertama)
Halaman : x + 294
ISBN : 978-602-256-027-2




Buku “Strategi Belajar-Mengajar di Kelas” ini saya dapatkan di perpustakaan sekolah.  Melalui buku ini, saya disadarkan kembali tentang tugas guru yang bukan sekedar  menyampaikan materi pelajaran. Seorang guru, juga harus mampu menciptakan suasana belajar yang baik serta mempertimbangkan  penggunaan metode dan strategi sesuai dengan materi pelajaran maupun keadaan anak didik.

Dalam tulisan ini, saya ambilkan contoh pembahasan mengenai strategi  guru pada pembelajaran. Strategi yang dimaksud meliputi keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan membuka pelajaran, keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya, ketrampilan memberikan penguatan, ketrampilan menggunakan variasi, dan strategi dalam mengaktifkan kelas.

Dalam membuka pelajaran, ada beberapa cara yang bisa dilakukan guru seperti (1) menarik perhatian siswa; (2) memotivasi siswa; (3) memberikan acuan/struktur pelajaran; (4) mengaitkan topik yang dikuasai dengan topik baru; dan (5) menguasai situasi kelas. Dalam membuka pelajaran guru berpegang pada prinsip-prinsip sebagai berikut seperti prinsip bermakna, prinsip kontinu (berkesinambungan), fleksibel, antusiame dan hangat dalam mengkomunikasikan  gagagan, serta berpegang pada prinsip-prinsip teknis penggunaan keterampilan membuka pelajaran.

Prinsip penggunaan ketrampilan menjelaskan dapat dilakukan, antara lain :
1) Penjelasan di awal, tengah, atau akhir pembelajaran.
2) Penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
3) Penjelasan tidak selalu diperlukan untuk semua topik/bahan pelajaran
4) Penjelasan menyesuaikan dengan latar belakang siswa

Komponen ketrampilan bertanya, antara lain meliputi : (1) Kejelasan dan kaitan pertanyaan, serta (2) kecepatan atau selang waktu (pause).  Pemberian waktu terhadap kesempatan berpikir siswa perlu diperhatikan. Dengan adanya pemberian waktu ini memberikan pengaruh misalnya, siswa dapat membetikan jawaban yang lebih panjang dan lengkap, siswa lebih yakin akan jawabannya bahkan sampai meningkatkan partisipasi siswa.

Ketrampilan memberikan penguatan yang baik bisa menimbulkan sikap yang positif bagi siswa serta meningkatkan partisipasi siswa dalam  kegiatan pembelajaran. Ketrampilan memberikan penguatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknis menuntun (prompting question), teknik menggali (probing question) maupun teknik pemusatan (focusing question).

Selanjutnya ketrampilan menggunakan variasi.  Variasi ini diperlukan untuk mengurangi tingkat kejenuhan siswa. Variasi yang dimaksud meliputi  perubahan gaya belajar, mengubah pola interaksi maupun mengubah pola interaksi  dan berbagai hal lain agar pembelajaran lebih menyenangkan. Pemberian variasi ini dapat dilakukan dengan berprinsip : (1) tujuan pembelajaran, (2) kontinu dan fleksibel, (3) antusiasme dan hangat; serta (4) relevan dengan tingkat perkembangan peserta didik.

Terakhir, strategi mengaktifkan kelas.  Berbagai  strategi bisa dilakukan agar kelas lebih aktif/hidup. Misalnya menggunakan strategi learning starts with a question, everyone is a teacher here, the power of two, information search, snowballing, jigsaw learning, constructive arguing mauun card sort.

Secara lengkap dan detil  buku ini membahas : (1) Pengertian belajar-mengajar, (2) Pendekatan, strategi, metode, teknik dan model pembelajaran, (3)  Perencanaan pengajaran dan asesmen pelajaran, (4) Strategi pemecahan masalah (problem solving), (5) Klasifikasi strategi belajar mengajar, (6) Perencanaan strategi pengajaran, (7)  Berbagai pendekatan dalam belajar-mengajar, (8) Penggunaan media sumber belajar dalam proses belajar-mengajar, dan (9) Keberhasilan belajar-mengajar.

Untuk lebih jelasnya, baca saja buku yang berjudul “Strategi Belajar-Mengajar di Kelas”.
Salam baca buku.









Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik

Judul buku : Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik
Penulis : Dra. Tutik Rachmawati, M.Pd dan Drs. Daryanto
Penerbit : Gava Media Yogyakarta
Tahun Terbit : 2015 (Cetakan 1)
Halaman : x + 374 hal
ISBN : 978-602-7869-92-9

Teori Belajar dan Pembelajaran yang Mendidik ini adalah sebuah buku yang layak untuk dibaca oleh para guru, kepala sekolah, pengawas maupun pemerhati pendidikan khususnya berkenaan dengan kompetensi pedagogik. Kompetensi pedagogik pada dasarnya merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.
Ada 8 poin dalam Kompetensi Pedagogik, yaitu :
1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual.
2. Menguasi teori belajar dan prinsip-prinsip belajar yang mendidik.
3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu.
4. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.
5. Memanfaatkan teknologi informasi dan  komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.
6. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.

Dalam buku ini membahas bagian 2 dan 4, yaitu :
1. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran
2.Menciptakan kegiatan pembelajaran yang mendidik.
Dua hal tersebut yang akhirnya disatukan dalam buku berjudul "Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik".

Secara keseluruhan ada 10 bagian yang dikupas dalam buku tersebut, yaitu :
Bab 1 Kompetensi Pedagogik
Bab 2 Karakteristik Peserta Didik
Bab 3 Teori Belajar
Bab 4 Teknik Belajar Efektif
Bab 5 Pembelajaran yang Mendidik
Bab 6 Penyelenggaraan Pembelajaran
Bab 7 Pembelajaran Remidial
Bab 8 Pembelajaran Tuntas dan Pengayaan
Bab 9 Pembelajaran Bermakna
Bab 10 Mengajar, Melatih, dan Mendidik

Untuk bab 3 yang memuat teori belajar dijelaskan berbagai teori belajar, yaitu teori belajar behavioristik, teori belajar kognitif, teori belajar konstruktivistik, teori belajar humanistik, teori belajar sibernetik, dan teori belajar revolusi sosiokultural.

Dua teori pembelajaran terakhir ini, saya sendiri baru mendengarnya. Di buku itu juga dituliskan bahwa teori belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingan dengan teori belajar yang lain. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan infomasi. Menurut teori ini belajar merupakan pemrosesan informasi.  Sedangkan teori belajar revolusi sosiokultural setelah saya baca, yang dimaksud adalah teori belajar dari Vygotsky yang lebih tepat disebut sebagai pendekatan ko-konstruktivisme. Konsep-konsep penting dalam teori ini adalah genetic low of development, zona of proximal development, dan mediasi yang mampu membuktikan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial budaya dan sejarahnya.

Untuk lebih jelasnya, silakan baca buku mengenai Kompetensi Pedagogik yang berjudul "Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik" ini.

Salam baca buku.



Jumat, 28 Oktober 2016

Menjadi Guru yang Kreatif dan Inspiratif

Judul  Buku : Jadi Pendidik Kreatif dan Inspiratif.
Penulis : Dion Eprijum Ginanto
Penyunting : Tiwi & Fenita
Penerbit : Jogja Bangkit Publisher (Anggota IKAPI)
Cetakan I : 2011
Tebal : 120 halaman
ISBN : 978-602-98290-1-3




Sebuah buku dengan judul "Jadi Pendidik Kreatif dan Inspiratif" memuat uraian praktis mengenai penyakit-penyakit yang menimpa guru alias para pendidik. Rasanya baru sekarang menemukan buku tentang keadaan atau kondisi "guru" yang agak unik dan aneh.

Unik karena saat awal membaca judul ini, saya kira berisi uraian panjang lebar mengenai seluk beluk guru. Kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai, seperti membahas mengenai kompetensi kepribadian, pedagogik, sosial maupun profesional. Ternyata...wah. Jauh-jauh dari tinjauan teoritis seperti itu. Aneh dalam arti, saya merasa isi buku ini sedikit "konyol" dalam mengupas mengenai keguruan. Bayangkan...penyakit-penyakit yang diderita guru. Bahkan bersama dengan obat penangkalnya.

Berikut sepuluh penyakit profesional guru dan penyakitnya.
1. Lesu Vs Jamu Kuat
2. Kusta Vs Balsem
3. Tipus Vs Puyer
4. Kurap Vs Salep
5. Kram Vs CTM
6. Kudis Vs Pil Jambu
7. TBC vs Kina
8. Mual VS Bodrek
9. Asam Urat Vs Sirup
10. Asma Vs Generik & Aspirin


Wah...unik dan aneh bukan. Jangan-jangan penyakit tersebut bukan hanya menimpa kaum guru atau pendidik. Tetapi juga menimpa para siswa, orang tua, masyarakat bahkan bangsa Indonesia sendiri. Terus...apa sih arti dari penyakit-penyakit tersebut. Apakah jenis penyakit fisik atau ada makna tersirat dari kesepuluh daftar penyakit dan juga obat penangkalnya.

Saya kupas dikit mengenai kepanjangan istilah-istilah di atas ya? 
1. Lesu Vs Jamu Kuat (Lemah Sumber vs Jangan Malu, Konsultasikan, Upayakan, Atasi, dan Terapkan)
2. Kusta Vs Balsem (Kurang Strategi vs Baca, Latih dan Sempurnakan)
3. Tipus Vs Puyer (Tidak Punya Selera vs Pikirkan, Usahakan, Yakinkan, Empati, Resapi)
4. Kurap Vs Salep (Kurang Persiapan vs Siapkan, Lakukan, Evaluasi, dan Pastikan)

Untuk kepanjangan yang lain serta detil penjelasan kesepuluh penyakit dan obatnya tersebut, tentunya baca saja buku yang berjudul "Jadi Pendidik Kreatif dan Inspiratif" tersebut. 
Oh ya..di bagian belakang buku tersebut juga telah disediakan Lembar Deteksi Penyakit Profesional Guru.

Demikian postingan mengenai buku "Jadi Pendidik Kreatif dan Inspiratif", semoga bermanfaat. Dan buat para guru, semoga bisa menjadi lebih profesional lagi, dan terhindar dari kesepuluh penyakit seperti yang telah disebutkan di atas. Bila pun telah terkena salah satu atau beberapa dari daftar penyakit tersebut...jangan sungkan, ragu atau malu untuk segera "menelan" obat penangkalnya.

Salam baca buku.

Mengasah Paradigma Pembelajar

Mengasah Paradigma Pembelajar, buku ke-23 yang ditulis Andrias Harefa, sebuah buku yang untuk kesekian kalinya bicara tentang belajar. Belajar dalam arti yang sangat luas. Belajar di alam semesta. Belajar di sekolah kehidupan. Selamat tinggal belajar di "bangku-bangku sekolah".




Buku-buku seputar pembelajaran yang ditulis oleh Andrias Harefa tercatat sebagai berikut :
1. Presentasi Efektif (1999)
2. Menjadi Manusia Pembelajar (2000)
3. Pembelajaran di Era Serba Otonom (2001)
4. Menata Karier, Menuju Kebebasan Finansial (2001)
5. Agar Menulis/Mengarang Bisa Gampang (2002)

Pada buku ini dibahas mengenai :
1. Perspektif Pembelajaran
2. Menemukan Kembali Makna Belajar
3. Terlahir Sebagai Pembelajar
4. Konteks Pembelajar
5. Mengenali Gaya Belajar
6. Memahami Ragam Kecerdasan
7. Pembelajaran Orang Dewasa
8. Re-learning

Melalui buku ini dan juga buku-buku lainnya, Andrias Harefa banya mengingatkan tentang makna belajar. Berbagai definisi belajar yang seambreg  tidak memuaskan Andrias Harefa dalam memaknai kata belajar.

Pada dasarnya, manusia terus belajar. Dan difitrahkan terlahir menjadi manusia pembelajar. Lulus sekolah bukan berarti selesai belajar. Kekeliruan yang besar. Saat lulus sekolah, justru harus menjadi pembelajar yang lebih hebat.

Mulai melangkah dalam dunia karier, berarti mulai untuk belajar kembali. Belajar dengan lebih cerdas. Berhenti belajar ketika sudah bekerja merupakan kesalahan luar biasa.

Kamis, 13 Oktober 2016

Buku Psikologi Perpustakaan

Buku Psikologi Perpustakaan
Judul : Psikologi Perpustakaan
Penulis : Wiji Suwarno
Penerbit : CV Sagung Seto Jakarta
Tahun terbit : 2009

Tak sengaja menemukan buku Psikologi Perpustakaan di Perpustakaan Purbalingga beberapa waktu yang lalu. Buku tersebut langsung menarik perhatian saya, karena temanya yang spesifik. Seperti beberapa waktu lalu saat kuliah di Semarang ada buku berjudul Psikologi Islami, langsung saya buru buku-bukunya yang lain.


Bab I Pendahuluan
Bagian ini berisi pengertian dari psikologi, perpustakaan dan psikologi perpustakaan.

Bab II Pengantar Umum Psikologi
Bagian ini berisi sejarah singkat perkembangan psikologi, konsep tiga aliran psikologi tentang manusia (Psikologi Behaviorisme, Psikologi Psikoanalisa, dan Psikologi Humanistik).

Bab III Perpustakaan
Berisi perpustakaan sebagai unit kerja; visi, misi, peran, tugas, dan fungsi; dan struktur organisasi perpustakaan.

Bab IV Persepsi dan Interaksi
Berisi persepsi dan interaksi.

Bab V Jiwa Perpustakaan
Berisi pustakawan, user, bahan pustaka dan gedung (tempat) atau ruangan.

Bab VI Bagaimana Agar Perpustakaan Bisa Survive?
Berisi analysis SWOT (kekuatan, kelemahan, kesempatan, ancaman dan tantangan), dan Coourtesy di Perpustakaan.

Saya sedikit mengutip analisa SWOT
1. Strength (kekuatan)
a. Sumber daya manusia
b. Koleksi bahan pustaka
c. Sarana dan prasarana
d. Pengunjung, anggota dan masyarakat pemakai
e. Lingkungan perpustakaan
f. Mitra kerja
g. Anggaran

2. Weaknesss (kelemahan)
a. Kelemahan internal : 1) Sumber daya perpustakaan; 2) Administrasi; 3) Manajemen
b. Kelemahan eksternal : 1) Adanya jarak atau celah antara perpustakaan dan masyarakat; 2) Adanya keterbatasan akses informasi dan komunikasi; 3) Respon dan perhatian masyarakat relatif rendah; 4) Persepsi yang keliru dan tidak lengkap tentang perpustakaan; 5) Minat masyarakat terhadap perpustakaan relatif rendah; 6) Tingkat kesibukan/waktu masyarakat terbatas

3. Oppurtunity (peluang)
a. Perkembangan informasi dan ilmu pengetahuan
b. Teknologi informasi
c. Perkembangan bidang pendidikan
d. Kebijakan pemerintah di bidang perpustakaan
e. Persaingan perpustakaan dengan bidang-bidang lain
4. Threat (ancaman atau tantangan)
a. Perkembangan pusat-pusat informasi yang lain
b. Acara televisi
c. Status dan kedudukan perpustakaan
e. Citra perpustakaan

Demikian sedikit isi/ulasan dari buku Psikologi Perpustakaan.
Selamat membaca buku Psikologi Perpustakaan. Salam baca buku.

Kamis, 04 Agustus 2016

Buku Asyiknya Membuat Mind Map Secara Kreatif

Buku tentang Mind Map
Baru kali ini, saya menemukan buku yang membahas asyiknya membuat mind map secara kreatif. Sekali lagi khusus tentang Mind Map.

Biasanya saya mendapatkan materi mind map ini dari bagian-bagian bab tertentu. Misalnya dari buku Quantum Learnin atau buku Use Both Sides of Your Brain dari Tony Buzan.

Buku berjudul "5 - 7 Menit Asyik Mind Mapping Kreatif" yang ditulis oleh Femi Olivia ini memberikan panduan ringan tapi lengkap bagaimana mengembangkan mind map.

Mudahlah intinya membuat Mind Mapping. Tentunya banyak sekali manfaatnya. Di dalam buku tersebut disebutkan bahwa Mind Mapping banyak bermanfaat bagi anak, misalnya :
- Membantu untuk konsentrasi serta dapat mengingat dengan lebih baik
- Meningkatkan kecerdasan visual dan ketrampilan dalam mengamati
- Meningkatkan kreativitas dan daya cipta
- Membuat tetap fokus pada ide utama maupun semua ide tambahan
- Dan lain-lain

Mind Mapping ini juga bisa digunakan dalam berbagai hal. Misalnya Mind Mapping tentang pelajaran, ringkasan buku, membuat solusi masalah, belajar bahasa, belajar sejarah, biografi tokoh dan sebagainya.

Marilah kita semakin membumikan penggunaan Mind Map sebagai salah satu alternatif cerdas, kreatif serta sangat menyenangkan dalam membuat catatan. Praktekan dalam berbagai kegiatan/bidang dan rasakan sensasinya (baca : manfaatnya).

Demikian sekilas mengenai buku Asyiknya membuat Mind Map.

Dan terakhir, yang membuat saya tertarik membaca buku ini, ternyata Femi Olivia ini banyak sekali menulis buku seputar tema-tema Cara Kerja Otak kanan, teknik Berpikir dan sejenisnya. Di bagian belakang banyak sekali dituliskan buku-buku yang disarankan seperti buku Membantu Anak Punya Ingatan Super, Visual Thinking, Merangsang Otak Anak dengan Corat-Coret, Klinik Belajar Otak Kanan dan masih banyak lagi. Ya...semuanya tentunya ditulis oleh Felmi Olivia.

(Ngiri berat sama beliau...penulis produktif dengan tema-tema yang spesifik..dan praktik tentunya).


Senin, 14 Maret 2016

Metodologi Pembelajaran IPA

Metodologi Pembelajaran IPA
Judul buku : Metodologi Pembelajaran IPA
Penulis : Asih Widi Wisudawati dan Eka Sulistyowati
Penerbit : PT Bumi Aksara
Tahun Terbit : 2014

Membaca buku Metodologi Pembelajaran IPA ini, saya semakin menyadari bahwa banyak sekali kekurangan saya terkait dengan referensi pendidikan IPA. Seingat saya, dulu memang pernah belajar tentang Kapita Selekta Pembelajaran IPA saat kuliah akta mengajar di UT. Setelah itu, kok rasa-rasanya kesulitan mencari referensi mengenai pendidikan atau pembelajaran IPA.

Buku-buku ke IPA an (juga Fisika) yang saya punyai pun terbatas.Di antaranya adalah buku-buku yang ditulis oleh Paul Suparno seperti Miskonsepsi dan Perubahan Konsep Pendidikan Fisika, Metodologi Pembelajaran Fisika dan Metode Penelitian Pendidikan Fisika.

Untuk daftar isi buku ini bisa dilihat langsung di blog sainsmedia. Pada postingan ini saya akan membahas mengenai Pedagogical Content Knowledge (PCK) IPA. PCK ini dapat dipahami sebagai analogi ilustrasi, contoh, penjelasan, dan demontrasi IPA yang paling kuat, cara mewakili dan merumuskan topik atau materi IPA sehingga dapat dipahami orang lain.

Prinsip less is more menjadi salah acuan yang dapat dipakai oleh guru IPA agar jangan berorientasi pada selesainya materi semata. Prinsip ini lebih menekankan pada penguasaan materi peserta didik berdasar pengamatan yang dilakukan.

Penyusunan PCK yang berprinsip pada less is more dapat dilakukan dengan berpegangan dengan kaidah sebagai berikut :
1. Peningkatan keterampilan mancari atau inkuiri dalam belajar IPA dengan aktif melakukan pengamatan, mencari informasi di internet, perpustakaan, buku, dan lingkungan sekitar.
2. Terlalu banyak materi yang disampaikan guru akan membuat peserta didik mudah melupakan materi tersebut.
3. Bahan dan materi IPA selalu berkembang. Jika guru hanya berorientasi pada banyaknya bahan atau materi yang disampaikan maka peserta didik akan tidak menguasainya secara mendalam.

Pada buku Metodologi Pembelajaran IPA ini juga dibahas berbagai model pembelajaran IPA seperti CTL, pembelajaran kooperatif SETS, Iqro, PBL dan lain-lain.

Berbagai metode pembelajaran IPA juga dibahas seperi metode simulasi dengan virtual laboratory, metode eksperimen dan lain-lain.

Ketika pembelajaran IPA dikembangkan secara terpadu, maka diperlukan penataan kelas agar proses pembelajaran IPA menjadi menarik bermakna.