Pro Kontra MBG pada bulan Ramadhan
![]() |
| Foto pribadi |
Pro kontra kebijakan pemerintah mengenai program MBG (Makan Bergizi Gratis) ini, bukan hanya saat bulan. Tetapi di bulan Ramadhan, deretan pro kontra ini makin bertambah. Dan masalahnya tidak sesederhana ketika dikaitkan dengan agama, apakah MBG ini menjadi "pemicu mokel" atau justru menjadi "ujian" yang harus diatasi.
Kita bisa mencatat, penyebab program MBG ini tidak diterima dengan baik dengan berbagai alasan sebagai berikut :
- menghabiskan dana negara
- pelayanan yang buruk (seperti terlambat mengantarkan, dianggap jauh dibawah indeks harga, kualitas makanan tidak maksimal dan sebagainya)
- berbagai kasus keracunan
- berbagai kasus keracunan
Yang pro MBG pun memiliki berbagai alasan sebagai berikut :
- pendidikan gizi sebagai hal yang mahal dan berproses panjang
- bantuan langsung diterima oleh siswa
- berbagai kekurangan untuk diperbaiki bukan dengan menghentikan program
Memang tidak mudah untuk memilih pro dan kontra. Bicara angka keracunan misalnya, maka secara kuantitas dianggap sebagai angka yang kecil. Tetapi dilihat dari sudut kemanusiaan, satu nyawa pun menjadi hal yang harus diperjuangkan.
Nah, pada bulan Ramadhan ini muncul penolakan baru mengenai MBG, yakni karena dianggap sebagai pemicu siswa untuk "mokel" bareng alias batal berjamaah. Sebaliknya, ada yang tetap mendukung MBG tetap dilanjutkan. Justru MBG ini menjadi ujian bagi siswa apakah akan semakin tangguh atau mengkambinghitamkan MBG ini.
Saya yakin, yang melakukan penolakan ini didasarkan pakai pertimbangan yang matang. Meski tetap menjadi pertanyaan. Apakah penolakan itu dilakukan dengan memperhatikan voice, choice, dan ownership atau hanya keputusan praktis yang diambil sekolah.
Dari hasil bincang-bincang dan pengamatan, MBG di bulan ramadhan ini diberikan dalam bentuk makanan dan minuman yang lebih awet. Dalam pendistribusian pun ada yang setiap hari, ada yang 3 hari sekali, bahkan 5 hari sekali. Tentunya hal ini menjadi hal yang menarik. Yakni bukan semata-mata melakukan efisiensi selama puasa tetapi juga bisa ditangkap sebagai upaya meminimalkan "mokel" tadi.
Bagi yang menghentikan MBG ini bukan semata-mata untuk "gagah-gagahan" atau "mencari selamat". Apa lagi jika dilakukan oleh sekolah yang dianggap sebagai figur, maka justru bisa memberikan contoh bahwa meskipun MBG berjalan tetapi tetap menjaga kualitas puasa para murid.
Karena menolak MBG bagi sekolah tertentu mungkin mudah karena "kekuatan ekonomi" ortu yang tinggi.
Sebaliknya, yang mempertahankan MBG pun perlu memberikan kontrol yang lebih. Termasuk tidak boleh lelah memberikan kesadaran kepada para murid.
Bagi para murid, renungilah apakah "mokel" itu karena fisik lemah, minim komitmen, atau ikut-ikutan teman semata.
Ramadhan boleh berakhir, tetapi pro kontra tentang MBG berpeluang akan terus ada. Mari lebih bijak dalam menyikapi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar