Kamis, 13 Februari 2020

Siapa Yang Layak Menjadi Pemimpin?

Hiruk pikuk pilkada 2020 menyentil saya untuk membuat tulisan berjudul siapa yang layak menjadi pemimpin.
Atau siapa sih yang layak untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin.

Pemimpin di sini tidak saja dimaknai sebagai kepala desa, bupati, gubernur atau presiden tetapi juga ketua-ketua berbagai organisasi atau perkumpulan atau komunitas yang lain.


Teringat saya akan Gus Dur yang terpilih sebagai presiden RI ke-4, lepas dari kondisi politik saat itu. Beliau saat akan dilengserkan tidak menggunakan kekuatannya sebagai pemimpin organisasi besar di Indonesia untuk mempertahankan jabatannya.
Tidak ada jabatan yang harus dipertahankan mati-matian. Begitu katanya. Kepentingan negara adalah segalanya.

Artinya di mata saya, Gus Dur bisa mengatasi batas-batas suku, agama, ras, kelompok, serta organisasi apapun yang diikutinya. Hanya kepentingan nasional yang menjadi fokusnya. Tidak aneh ketika dia bisa membela orang-orang Konghucu, membela eks PKI serta tindakan-tindakan lain yang bertentangan dengan kebijakan/aturan organisasi atau apapun.

Dalam level kabupaten misalnya, saya kira pun sama. Pemimpin yang layak memimpin itu jika bisa mengatasi batas-batas organisasi/kelompok atau apapun yang menjadi penghambat fokus ke level kabupaten. Ketika dia masih ingin fokus memperjuangkan organisasi/kelompok/komunitas/parpol atau apapun bagi saya tidak layak untuk memimpin.

Dalam level pertarungan perebutan organisasi apapun juga sama. Ketika pengaruh teman/kelompoknya masih sangat kental sehingga tidak bisa bertindak adil terhadap kelompok-kelompok lain lupakan untuk mencalonkan jadi ketua organisasi apapun.

Pada dasarnya menjadi pemimpin adalah ngemong secara keseluruhan. Bukan fokus dari mana dia berasal. Hal ini hanya akan mengurangi keadilan bagi semua, khususnya pihak-pihak yang tidak menjadi pendukungnya. Dan tidak boleh tidak akan rawan dengan tindak KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) minimal tindakan perkoncoan yang melupakan tugas utama untuk mengayomi semua.

Kesimpulannya, ketika belum bisa mengatasi batas-batas kelompok/organisasi/agama atau apapun lupakan untuk mencalonkan menjadi pemimpin/ketua organisasi sekecil apapun.

Sekali lagi ingat pada Gus Dur yang tidak bakal mau mempertahankan jabatan mati-matian. Apalagi belum belum menjabat pun sudah melakukan berbagai cara untuk mempertahankan jabatannya (yang belum tentu dijabat).



Sumber gambar : https://www.lampost.co/berita-8-kabupaten-kota-di-lampung-bersiap-gelar-pilkada.html

Daftar Blog Saya