Minggu, 10 Mei 2020

Menyiapkan Blended Learning Pasca Darurat Covid

Kapankan darurat covid berakhir? Apakah sampai bulan Juni atau bahkan sampai akhir Desember ? Sebuah pertanyaan yang masih dini untuk bisa dijawab dengan melihat dinamika pasien yang sembuh sekaligus pasien yang bertambah. 


Yang penting bukan masalah itu sendiri, kata Covey. Tetapi bagaimana cara menyikapi masalah tersebut. Ayo selalu bersikap proaktif kata pakar leadership tersebut.  Kita bisa mengubah hambatan menjadi peluang, kata Paul G Stoltz dalam Adversity Quotient-nya. Bagaimana dengan kita?

Dalam menghadapi darurat covid 19 ini, dunia pendidikan "banting setir' dari meniadakan ujian nasional, penilaian akhir semester/tahun dan evaluasi lainnya. Kegiatan sekolah banyak yang dihentikan serta pembelajaran dilakukan secara online. Dalam pembelajaran online ini, guru menggunakan berbagai strategi sedangkan siswa melakukan pembelajaran dari rumah.

Guru-guru melakukan secara cepat melakukan persiapan pembelajaran menggunakan berbagai cara seperti grup WA, grup facebook, edmodo, google classroom, schoology 
dan sebagainya. Konten-konten diambil dari berbagai blog/website, youtube sampai menggunakan google form untuk membuat evaluasinya.

Pelaksanaan pembelajaran secara online ini sebenarnya bersesuaian dengan pembelajaran secara offline (tatap muka) baik pada bagian awal, proses, maupun akhir pembelajaran.

Guru melakukan apersepsi dan motivasi serta memberikan materi di depan kelas. Guru juga melakukan tanya jawab, mengajak siswa diskusi kelompok sampai akhirnya mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Kegiatan pembelajaran ini diakhiri dengan melakukan kuis atau tes formatif.

Hal ini sama ketika pembelajaran menggunakan grup WA. Guru memberikan apersepsi/motivasi dengan mengirimkan teks/gambar/video. Selanjutnya guru memberikan materi dengan disertai tugas kelompok. Siswa bisa berdiskusi langsung di grup kelas atau membuat grup kelompok sendiri. Setelah selesai hasil diskusi dikirim ke grup baik berupa file, teks, foto,link maupun video. Selanjutnya siswa dari kelompok lain memberikan tanggapan. Kegiatan pembelajaran di grup WA, ini diakhir dengan mengirimkan soal di grup baik berupa file, teks, foto, maupun video. Jawaban bisa dikirim lewat japri ke guru. Evaluasi juga bisa dilakukan dengan menggunakan link ke google form atau penyedia evaluasi lainnya.

Jika menggunakan blog, pembelajaran juga hampir sama. Materi sampai evaluasi sudah disiapkan di laman blog. Sedangkan untuk diskusi bisa melalui kolom komentar yang ada di blog.

Menyimak apa yang terjadi saat ini seperti pada gambaran di atas, pembelajaran online menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pembelajaran di kelas. Sebenarnya bukan hal yang baru, tetapi sekolah harus memiliki sumber daya yang siap agar pembelajaran berjalan dengan maksimal. Dalam masa "uji coba" pembelajaran online sekarang ini, sekolah dapat melakukan evaluasi bagian mana yang perlu dikembangkan.

Pembelajaran yang akan dilakukan bukan pembelajaran yang online sepenuhnya, tetapi pembelajaran yang menggabungkan antara keunggulan pembelajaran tatap muka (face to face) dan pembelajaran jarak jauh (online). Pembelajaran seperti ini yang disebut dengan pembelajaran blended/bauran/hybrid. 

Saya tak dapat membayangkan jika pembelajaran pada level SD/SMP/SMA harus melakukan pembelajaran online secara penuh. Pembelajaran yang full tatap muka juga ide yang harus dilupakan. Banyak hal dalam pendidikan yang tak dapat dilakukan secara online dan begitu sebaliknya. Hal ini berbeda dengan perguruan tinggi, khususnya UT yang memang menyiapkan sistemnya sesuai dengan standar penyelenggaraan pendidikan jarak jauh.

Selama masa darurat covid ini, guru yang memiliki kemampuan IT bagus sekalipun mengalami kesulitan atau kejemuhan dengan pembelajaran dari rumah yang tak ada habisnya. Demikian juga dengan siswa serta orang tua. Bukan sekedar masalah kebutuhan perangkat serta kuota yang dipakai tetapi rasa "kangen" luar biasa dari guru serta siswa untuk dapat bertemu secara langsung. Kekuatan pembelajaran online yang tanpa batas seolah kehilangan kekuatannya menghadapi hal tersebut.

Bagaimana juga ketika guru melakukan penilaian sikap dan ketrampilan saat pembelajaran online. Cukupkah dengan mencatat siswa yang sopan dalam menuliskan komentar atau siswa yang sigap dalam menjawab respon di grup? Bagaimana jika ada siswa yang dalam pembelajaran tatap muka biasa "unggul" tetapi saat online ternyata tidak bisa berkembang karena keterbatasan teknologi yang dimilikinya (sinyal hp tidak kuat misalnya). Ataukah ketika siswa diberi tugas benar-benar mengerjakan sendiri? Misalnya menyuruh siswa untuk membantu orang tua. Terbayangkah jika anak sekedar memegang sapu, foto dikirim dan ternyata setelah foto, sapunya diberikan kepada orang tua/pembantunya. Ketika guru mewajibkan siswanya mengirimkan video penuh, apakah tidak timbul lagi masalah kuota atau kelancaran jaringan. 

Guru juga dapat mengamati interaktivitas di dalam grup pembelajaran yang dikelolanya. Berapa jumlah siswa yang bisa menjadi anggota grup, berapa yang online, berapa yang menjawab pertanyaan guru/ikut berdiskusi, dan berapa yang menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Hal ini selaras dengan kondisi di dalam kelas tatap muka. Berapa jumlah siswa per kelas, berapa yang masuk, berapa aktif di kelas, dan berapa yang mengerjakan tugas. Mengerjakan tugas dalam konteks di sini adalah mengerjakan tugas tanpa mencotek. Dapat dipastikan, jumlah siswa akan semakin berkurang dari kondisi awal sampai yang terakhir.

Apakah ada yang salah dalam kedua pembelajaran ini? 
Boleh jadi, ketika menyimak dari interaktivitasnya. Bagian mana yang perlu diperbaiki? Apakah konten pembelajaran tidak menarik? Penyajian materi tidak menarik? Evaluasinya tidak menantang? Atau faktor yang lain?

Dalam blended learning/pembelajaran bauran ini memiliki tiga bagian yang penting, yaitu pembelajaran tatap muka, pembelajaran online, dan kemandirian belajar siswa. Kemandirian belajar siswa menjadi point utama dalam kedua pembelajaran tersebut. Belajar bukan lagi karena faktor tekanan guru. Siswa boleh takut ketika menghadapi guru di kelas, dan bisa mengabaikan guru ketika pembelajaran online. Guru pun sebaliknya, bisa nampak "killer" atau galak di dalam kelas, tetapi ketika pembelajaran online bagaimana agar "kewibawaannya" tidak berkurang. Di sinilah, sudah saatnya tak ada dusta di antara guru dan siswa. Guru tetap memiliki kewibawaan sedangkan siswa memiliki motivasi untuk belajar secara mandiri. Tanpa itu, pembelajaran apapun yang dipilih dapat dipastikan gagal.

Interaktivitas dalam kelas yang terjadi adalah interaktivitas siswa dengan siswa, siswa dengan guru, dan siswa dengan media/bahan ajar atau sebut saja sebagai konten pembelajaran. Untuk interaktivitas siswa dengan siswa/guru, saya kira hal biasa yang tidak perlu diulas di sini. Interaksi siswa dengan konten pembelajaran menjadi hal yang penting. Bagaimana siswa tertarik dengan konten tersebut? Bagaimana guru melakukan respon terhadap tombol-tombol yang ada? Bagaimana siswa mengelola informasi yang didapat sesuai dengan gaya belajarnya sendiri? Bagaimana siswa mengekplor konten yang ada dari bagian tujuan pembelajaran, materi, sampai akhirnya melakukan evaluasi mandiri.

Blended learning ini bukan menyiapkan hal-hal yang baru semata tetapi lebih banyak mengubah mindset para guru, bahwa apapun proses pembelajarannya, harus memiliki target/tujuan yang jelas. Sumber daya yang dibutuhkan juga bukan sumber daya yang benar-benar baru, tetapi lebih banyak mengumpulkan sumber daya yang berserakan agar terorganisir dengan rapi.

Selama ini guru-guru telah banyak melakukan pelatihan-pelatihan mengenai implementasi kurikulum, model pembelajaran, cara membuat media ajar, cara membuat soal hots, cara mengintegrasikan literasi maupun PPK dalam pembelajaran serta seambreg pelatihan lainnya. Di sisi lain, guru juga telah mengikuti berbagai pelatihan seperti membuat soal online, membuat video pembelajaran, membuat media pembelajaran interaktif, memanfaatkan kelas maya, serta berbagai pelatihan lain seputar penggunaan IT.

Hal yang perlu ditanyakan adalah di mana hasil pelatihan-pelatihan itu? Apakah tersimpan di folder yang rapi, atau tercecer di sana sini. Ada yang berupa catatan tulisan tangan, ada yang tersimpan di laptop sendiri/teman, ada yang tersimpan di komputer tempat pelatihan, ada yang tersimpan di internet. Ketika tersimpan di internet, mana yang tersimpan di drive, mana yang di youtube, mana yang di site, mana yang di blog, dan tempat-tempat lain yang teringat saat pelatihan. Setelah lama tidak digunakan, timbul masalah dari permasalahan lupa akun/password sampai bahkan lupa alamat yang mau dibuka apa.
Tepuk jidat sendiri khan?

Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu solusi yang dipakai adalah guru memiliki portal belajar sendiri. Bikin konten apapun, baik teks, file, maupun link konten berada di satu tempat atau satu rumah. Bolehlah selama ini, misalnya kita membuat soal online menggunakan google form, membuat video yang telah terupload di channel youtube sendiri, membuat naskah/lembar kerja/presentasi di drive, maupun disimpan di media lain (hp, flash disk, laptop). Sekarang konten-konten tersebut disatukan dalam sebuah blog yang nantinya menjadi rumah besar kita.

Bukankah boleh konten-konten itu ditaruh di facebook atau WA? 
Tak ada yang salah, tetapi dengan melihat keterbatasan facebook atau WA , maka keduanya sebagai portal tambahan. Kelemahan yang dimaksu seperti konten-konten lama tertimpah atau konten-konten hilang saat WA direset, serta manajemen file yang terbatas pada jenis file yang diupload bukan kategori per tema, serta lainnya. 

Portal yang akan kita siapkan dalam pembelajaran blended ini adalah blog pendidikan atau edu blog yang kita kelola sendiri.  Mengapa blog? 1) mudah dikelola tanpa perlu pengalaman pemrograman apapun, 2) Postingan ditampilkan secara kronologis, yang terbaru berada paling atas, 3) Postingan sebelumnya atau terdahulu dapat dicari di arsip blog, 4) Postingan yang ada dapat dikumpulkan atau dikelompokkan dalam label/kategori sesuai kebutuhan, 5) Blog bisa menampung teks, gambar, video secara langsung maupun link-link lain yang dibutuhkan seperti soal online, video, gambar, file, maupun link blog lain, 6) Dalam blog tersedia kolom komentar atau bisa menggunakan buku tamu, 7) Dalam blog bisa terhubung/terintegrasi dengan media sosial (facebook/IG/WA/twitter/dll) bahkan portal lain yang dibuat, 8) lainnya (sebutkan sendiri).

Jadi, untuk menyiapkan blended learning yang akan dibangun kita perlu menyiapkan portal terlebih dulu agar manajemen file/konten terpusat di konten tersebut. Tak ada lagi siswa yang bertanya kemarin materinya apa? Link tugasnya di mana? Link video yang ditonton mana? Tugas dikirim ke mana? Siapa yang menghapus nama saya, padahal saya sudah nulis absen kemarin? serta seambreg pertanyaan lain yang tak berhubungan dengan pembelajaran.

Tentunya dalam menyiapkan portal blended learning tersebut tetap mengacu pada analisa kebutuhan serta ketersediaan sumber daya yang tersedia.
Selamat berkarya. Ditunggu ya..portalnya.