Senin, 05 Februari 2024

Arti "Broken" dalam Fenomena Perubahan Digital: Review Buku Dedy Dahlan

Arti "Broken" dalam Fenomena Perubahan Digital: Review Buku Dedy Dahlan

Dunia sedang berubah dengan kecepatan yang sulit diikuti. Dalam fenomena perubahan digital ini, banyak dari kita merasa "Broken" atau hancur karena pola-pola lama tidak lagi relevan. Buku karya Dedy Dahlan ini hadir sebagai panduan untuk menavigasi kekacauan tersebut.

Sebagai pendidik yang berfokus pada Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), saya melihat pesan dalam buku ini bukan sekadar teori, melainkan realitas harian yang kita hadapi dalam transformasi pendidikan.

"Broken": Bukan Sekadar Gangguan Teknologi

Dedy Dahlan menekankan bahwa kesalahan besar kita adalah menganggap perubahan saat ini semata-mata soal teknologi atau "gangguan" (disruption) digital. Sesungguhnya, Broken adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan situasi saat ini yang penuh ketidakpastian.

Sesuatu yang baru tidak akan bisa mengambil peran jika sesuatu yang lama tidak dihancurkan terlebih dahulu. Stabilitas kini bukan lagi prioritas utama; yang lebih penting adalah kemampuan kita untuk terus belajar sesuai tuntutan zaman.

Fenomena "Broken" dalam Keseharian Kita

Saya merasakan sendiri bagaimana konsep broken ini bekerja dalam realitas harian:

  1. Transformasi Literasi: Dulu, saya terbiasa meminjam buku fisik di Perpustakaan Umum Kabupaten Purbalingga. Kini, model itu perlahan "hancur" dan digantikan oleh platform digital. Satu file kini bisa diakses oleh ribuan orang secara bersamaan.
  2. Transparansi Kerja (Presensi Digital): Dulu kita mengenal "rapel tanda tangan" manual. Sekarang, dengan aplikasi berbasis GPS, kejujuran dipaksa oleh sistem. Lokasi "akal-akalan" akan terdeteksi. Ini adalah contoh Broken—hancurnya kebiasaan lama demi akurasi sistem.

Hubungan dengan Pendidikan Merdeka Belajar

Dalam konteks Merdeka Belajar, sistem pendidikan yang kaku harus "dirusak" agar ruang inovasi muncul. Guru tidak lagi hanya menjadi sumber informasi tunggal, tetapi menjadi fasilitator. Di dunia KKA, kegagalan atau error adalah bagian dari proses. Justru dari sana kita melakukan debugging untuk solusi yang lebih baik.

Kesimpulan

Digital transformation is actually NOT about the technology. Kita memiliki kendali penuh untuk menyikapi perubahan ini. Jika Anda merasa sedang berada di tengah ketidakpastian, mungkin ini saatnya untuk "menghancurkan" pola lama dan menyusun kembali strategi hidup Anda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Daftar Blog Saya

Comments

Postingan Acak

Pengikut

Back To Top