Rabu, 14 Februari 2024

Arti Broken dalam Fenomena Perubahan Digital

Arti Broken dalam Fenomena Perubahan Digital

Arti Broken dalam Fenomena Perubahan Digital
Apakah ini yang dimaksud dengan broken?

Dedy Dahlan, dalam bukunya yang berjudul "Broken : Something Cool tentang Berubah" menuliskan "Because a digital transformation, is actually NOT about the technology. Kukira aku pun menyepakatinya, transformasi digital adalah permasalahan mindset yakni bagaimana kita menghadapinya.

Dedy Dahlan menggambarkan broken dalam berbagai situasi. Pertama, bagaimana perkembangan dari telepon seluler dari sebuah benda sebesar sepatu yang berbentuk kotak hingga akhirnya era sekarang.

Dulu, sekitar tahun 1996, ketika kost di Semarang, memiliki telepon di kost itu hal yang masih istimewa. Bahkan susah payah menggunakan tiang tinggi dengan sinyal yang tetap saja putus nyambung. Bikin emosi ketika asyik-asyiknya menelepon dibilang suaranya ndak jelas. Artinya letak geografis kost berpengaruh terhadap ketersahabatan sinyal. Tentunya beda di tempat lain yang letaknya mendekati jalan raya. Wartel pun tumbuh dengan subur sampai tahun 2002 an kukira juga masih laku. Lama-lama telepon menjadi hal biasa yang dimiliki rumah. Dan dengan bantuan modem, dari kabel telepon itu bisa nyambung ke PC untuk internetan. 
Sekarang cukup pakai HP, mau telepon, internetan, dan banyak kebutuhan lain cukup diselesaikan dengan gadget yang terjangkau harganya.

Kedua, orang-orang sadar bahwa sekarang mereka bisa memiliki "media" sendiri dengan menggunakan kamera yang dimiliki. Untuk menjadi terkenal tidak lagi menjadi artis dengan berperan di film layar lebar maupun televisi, tetapi cukup dengan membuat channel di youtube. Omong-omong video Jawed memulai YouTube pertamanya dengan video berdurasi 19 detik dengan setingan di kebun binatang. Video yang diupload pada bulan April 2005 tersebut telah ditonton sebanyak 58 juta penonton. Jawed Karim, bersama dua kawannya, yakni Chad Hurley dan Steve Chan, menjadi pendiri asli YouTube.

Video berjudul "Me on the Zoo" yang dimuat di youtube mengubah pandangan bagaimana kita melihat dunia. TV konvesional akhinya mulai kehilangan pemirsanya karena mereka lebih menyukai tayangan streaming.

Ketiga, berbagai efek broken seperti anak-anak yang lebih memiliki cita-cita sebagai YouTuber atau influencer dan pekerjaan berbasis digital lainnya. Efek lainnya adalah toko-toko besar yang tutup karena kalah dengan pemasaran melalui IG atau medsos lainnya yang bahkan tanpa memiliki stok barang sekalipun. Para calon pekerja yang memilih gaji diturunkan asalkan bisa bekerja di rumah yang membuat pemilik usaha geleng-geleng kepala pun merupakan efek dari broken tersebut.

Ketika semua hal yang selama ini berlaku tidak terpakai lagi.
Ketika semua cara lama tidak lagi terbukti efektivitasnya.
Ketika logika generasi kemarin tidak bisa diandalkan.

Inilah fenomena "Broken".

Jadi, siapkan kita menghadapi fenomena broken ini atau malah menyalahkan situasi. Siap-siaplah terlindas oleh zaman ataukah karena memang mau kembali ke zaman batu.




2 komentar:

  1. Semula saya berfikir baca judulnya itu dalam benak saya terbersit sesuatu yg gak baik. Sesuatu yg retak atau patah tak beraturan. Setelah saya membaca sebagian dari buku ini ternyata bentuk transformasi menuju pemanfaatan teknologi yang sudah serba luar biasa saat ini. Tentunya saat ini saya masih penasaran buat membaca buku ini sampai selesai. Terima kasih pak atas ilmunya.

    BalasHapus
  2. Kesan yang pertama kurasa juga sama. Semakin digali semakin paham bagaimana memahami fenomena dunia kekinian dan bagaimana menghadapinya. Bukan masalah IT-nya tapi mindsetnya.

    BalasHapus

Daftar Blog Saya

Comments

Postingan Acak

Pengikut

Back To Top