Menghidupkan Kembali "Roh" Pendidikan: Etika Guru dan Siswa dalam Perspektif Islam
Pernahkah Anda merasa bahwa pendidikan saat ini terkadang terasa hambar? Kita memiliki teknologi canggih dan kurikulum yang terus berganti, namun tantangan karakter dan kualitas hubungan antara pengajar dan pelajar tetap menjadi isu utama.
Dalam dunia pendidikan modern yang seringkali "bergaya bank"—meminjam istilah Paulo Freire, di mana guru hanya menyetor informasi ke kepala siswa seolah mereka adalah celengan kosong—kita membutuhkan sebuah kompas baru. Jawabannya ternyata ada pada warisan pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari melalui kitab legendarisnya, Adabul ‘Alim wal Muta’allim.
Mari kita telaah bagaimana etika tradisional ini justru menjadi kunci sukses pendidikan yang memerdekakan dan membahagiakan di era digital, serta bagaimana ia bersinggungan dengan pemikiran para tokoh besar dunia.
1. Pendidikan: Antara Pembebasan dan Perjalanan Spiritual
Bagi KH. Hasyim Asy’ari, menuntut ilmu bukan hanya soal menghilangkan kebodohan atau mencari pekerjaan. Belajar adalah ibadah untuk mencari ridha Allah. Namun, gagasan ini tidaklah eksklusif. Jika kita melihat perspektif global:
Paulo Freire melihat pendidikan sebagai alat untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan dan ketertindasan.
Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) dengan pemikiran pluralis dan futuristiknya, menawarkan ide universalisme Islam yang membebaskan pemikiran manusia dari belenggu tradisional yang sempit menuju pembebasan yang lebih komprehensif.
John Dewey menekankan bahwa pendidikan adalah kehidupan itu sendiri, dengan nilai-nilai etis-demokratis seperti kebebasan, persamaan, dan persaudaraan.
Di sinilah letak keunikan pemikiran KH. Hasyim Asy'ari. Meskipun sering dianggap sebagai representasi Islam tradisional karena berpondasi pada pemikiran Al-Ghazali dan Al-Zarnuji, esensinya tetap relevan sebagai fondasi karakter bagi pendidikan yang "membebaskan" tersebut.
2. Sang Guru: Lebih dari Sekadar Pengajar
Dalam Islam, guru memiliki banyak sebutan: Murabbi (pemelihara), Mu’allim (pengajar), dan Mu’addib (pendidik karakter). KH. Hasyim Asy’ari merumuskan etika guru yang sangat mendalam:
A. Akhlak Pribadi yang Kokoh
Seorang guru harus memiliki integritas luar biasa, seperti sifat Muraqabah (merasa diawasi Allah) dan Zuhud (tidak menjadikan ilmu sebagai alat mengejar kekayaan semata). Guru juga harus Humble (Tawadlu’), tidak segan belajar dari siapapun termasuk yang lebih muda.
B. Etika Saat Mengajar
Proses mengajar adalah proses suci. Guru disarankan untuk tampil rapi, memulai dengan doa, dan mengatur volume suara agar nyaman didengar. Guru harus berani berkata "Saya tidak tahu" jika memang tidak tahu jawabannya—sebuah tanda kejujuran intelektual.
3. Sang Siswa: Sang Pencari Cahaya
Siswa dalam Islam adalah subjek yang aktif dan produktif. Etika siswa meliputi:
Pembersihan Hati: Karena ilmu dianggap sebagai cahaya yang hanya masuk ke hati yang bersih.
Manajemen Diri: Menjaga pola makan, tidur, dan memanfaatkan masa muda untuk menyerap ilmu seoptimal mungkin.
Adab dan Fokus: Menghargai guru sebagai sumber ilmu dan fokus menyelesaikan satu bidang sebelum beralih ke yang lain.
4. Kurikulum yang Integratif: Perspektif Ibnu Khaldun & KH. Hasyim Asy'ari
Sejalan dengan pemikiran Ibnu Khaldun, pendidikan harus memiliki kurikulum yang integratif mencakup ilmu agama (naqliyyah) dan ilmu rasional (aqliyyah). Hal ini sejalan dengan tuntutan kompetensi guru masa kini (pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional) serta visi Merdeka Belajar dan Profil Pelajar Pancasila.
Kesimpulan:
Pendidikan bukan hanya tentang transfer data, melainkan transformasi jiwa. Dengan memadukan adab tradisional dan strategi belajar modern, kita dapat mewujudkan ekosistem pendidikan yang memanusiakan manusia.
Daftar Referensi Pilihan
Untuk pendalaman lebih lanjut mengenai topik ini, berikut adalah beberapa referensi buku dan sumber literatur yang dapat dipelajari:
Asy’ari, KH. M. Hasyim. (2020). Pendidikan Akhlak untuk Pengajar dan Pelajar (Terjemahan). Jombang: Tebuireng.
Faisol. (2011). Gus Dur & Pendidikan Islam: Upaya Mengembalikan Esensi Pendidikan di Era Global. Yogyakarta: Ar-Ruz Media.
Gunawan, W. Adi. Genius Learning Strategy: Petunjuk Praktis untuk Menerapkan Accelerated Learning. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Jafar, Aziz. (2018). Seni Mendidik Dalam Perspektif Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari. Pustaka Tebuireng.
Mukani. (2016). Berguru Ke Sang Kyai: Pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari. Yogyakarta: Kalimedia.
Musfah, Jejen. (2006). Peningkatan Kompentensi Guru Melalui Pelatihan dan Sumber Belajar. Jakarta: Prenadamedia Group.
Qutb, Muhammad. (1993). Sistem Pendidikan Islam (terjemahan). Bandung: PT Al Ma’arif.
Ramayulis & Mulyadi. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Saefullah, U. (2013). Manajemen Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Tim Pusat Kajian Pemikiran Hasyim Asy’ari. (2018). Buah Pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam Bidang Pendidikan. Pustaka Tebuireng.
Catatan : saat artikel ini dibuat, kurikulum kita masih berorientasi pada Profil Pelajar Pancasila

Tidak ada komentar:
Posting Komentar