Rabu, 29 Maret 2017

Baca Buku : Dulu dan Sekarang

baca buku
Berapa waktu yang Anda luangkan untuk membaca buku dalam sehari?
Bandingkan dengan banyaknya waktu yang terbuang untuk menonton TV, sms an, telepon, menggunakan gadget, smartphone, hape. Berinternet...browsing...sibuk komen di facebook, mikir bikin status facebook yang heboh...WA...BBM dan seabreg kegiatan lainnya.
Itu baru hilangnya waktu karena pengaruh teknologi..Belum lagi dengan kegiatan main, kumpul teman, muter-muter pakai motor dan kegiatan lain yang sejenis.

Masihkan tersisa waktu untuk sekedar membaca buku..Entahlah. Kalau melihat kecederungan remaja sekarang, bahkan orang tua baik yang bergelut di dunia pendidikan maupun non pendidikan. Jawabannya entahlah.

Saya amati sekilas kehidupan di perpustakaan baik di perpustakaan sekolah maupun perpustakaan daerah. Secara umum bisa dikatakan sepi. Gedung yang bagus, ruangan yang nyaman, koleksi yang lumayan lengkap belumlah menarik perhatian pengunjung. Coba amati aktivitas perpustakaan sekolah. Kapan ramainya? Pertama, kalau ada jam pelajaran kosong dan satu kelas tersebut digiring ke perpustakaan. Kedua, kalau ada jam membaca. Itu bagi sekolah yang ada jam khusus baca perpus. Bagi yang ndak..ya kapan lagi. Ketiga, kalau ada pelajaran gurunya menggiring siswanya mencari bahan atau sekedar meringkas materi. Dengan alih-alih..siswa mencari pengetahuan sendiri. Riset..mencari dan seterusnya. Keempat, jika ada tugas baik ketika mencari info di koran maupun mencari kliping.

Keempat alasan yang saya sebutkan tersebut, tentunya alasan yang muncul dari luar (desakan dari guru). Kayaknya kalau ada anak yang berjam-jam di perpustakaan  untuk membaca atau mencari buku jadi aneh kelihatannya.

Demikian juga dari kalangan guru maupun TU? Bolehlah bertanya berapa buku di perpustakaan yang dibaca sejak bekerja di sekolah yang bersangkutan. Lima puluh buku...dua puluh buku...sepuluh buku...lima buku...dua buku...satu buku bahkan separuh buku. Sudahkan pernah dilakukan?

Yang lebih banyak saya lihat..mereka hanya berebutan ketika ada koran datang. Yang dibaca ya..halaman yang disukai saja. Pernahkah ada yang habis menikmati artikel yang ada di koran. Ataukah hanya berita-berita yang "tak bermutu" yang hanya dikonsumsi. Komentar pedas..ketika
ada kebijakan pemerintah yang tidak cocok..Sekali lagi pernahkah menghabiskan artikel satu halaman penuh yang dimuat di koran tersebut?

Ataukan kalau ada cerpen di edisi khusus hari minggu, pernahkah kita menyelesaikan dalam membacanya?
Kemudian kehadiran majalah MOP, ANCAS maupun terbitan lainnya. Apakah pernah habis dibaca?

Demikian juga ketika saya ke perpustakaan daerah. Agak kaget juga ketika saya bertemu dengan beberapa orang yang "aneh" saja kalau dia berada di sana. Iseng-iseng saya tanya. Ada yang menjawab sedang mengerjakan tugas kampus. Komentarnya, nyari buku di sini kok ndak nemu-nemu ya? Saya bilang saja, kalau di sini ndak ada ya cari di toko buku. Buku kayak gitu banyak kok..gampang nyarinya.
Mendengar jawaban saya itu paling-paling meringis tersenyum. Atau saat ketemu ibu-ibu yang mencari bahan bacaan untuk kepentingan kuliah. Tanya saya..buku ini di mana..buku itu di mana. Kebetulan saya agak hapal waktu itu posisi-posisi buku perpustakaan. Malah saya dikira petugas perpustakaan. Owalah...makanya rajin ke perpusatakaan. Jangan hanya pas butuh saja. Ketika nyari ndak nemu, langsung beranggapan buku-buku di perpustakaan tidak lengkap..Alamak...

Ada semangat yang berbeda antara zaman dulu dan sekarang.
Semangat yang berbeda saat berburu buku, mencari buku maupun membaca buku.
Tahun 1993 waktu itu saya masih SMP. Teringat bagaimana bisa menghabiskan berbagai buku-buku seperti serial Wiro Sableng, Pendekar Pulau Neraka, Pendekar Rajawali Sakti, Pendekar Naga Putih, Jaka Tuak, Dewa Tuak, Bujalatasaki (Bujang Gila Tapak Sakti) dan cerita-cerita sejenisnya. Waktu itu juga sudah mengenal karya terjemahan seperti serial 5 Sekawan, Sapta Siaga, Trio Detektif, Oliver Twist...terus berkembang sampai menikmati serial Dr. Karl May dengan Winnetou dan sahabat-sahabatnya seperti Old Shutterhand dan Old Firehand. Di cerita lokal juga ada Agung Sedayu, Swandaru, Sekar Mirah dalam buku Api di Bukit Menoreh.

Kalau novel ada karangan Mira W, S Mara Gd, Marga T, Shidney Sheldon dan banyak lagi. Karya-karya Pramudya Ananta Tour, Langit Krisna Rahardi, Andreas Hirata pun sempat saya nikmati.


Bagaimana dengan generasi sekarang. Masih adakah kemauan  yang kuat untuk berburu buku. Teenlit banyak bertebaran..fiksi mini...seri kecil-kecil punya karya,
novel-bovel yang difilmkan..sudahkan dibaca?

Membaca seambreg jenis bacaan baik berbentuk kumpulan cerpen, cerita silat, berbagai komik, bahkan novel-novel yang tebal apakah membuat kita malas membaca pelajaran sekolah?
Kalau pengalaman saya, sama sekali tidak mengganggu. Justru motivasi membaca buku pelajaran semakin meningkat. Mengapa? Otak kita dah terbiasa untuk memahami berbagai cerita dengan alur yang berbagai macam. Semakin mudah..dan semakin mudah dalam memahami berbagai teks pelajaran.
Sekali lagi itu pengalaman yang saya alami. Tidak ada rumusnya membaca bikin ngantuk. Justru semakin lama semakin "melotot" matanya dalam membaca buku pelajaran. Haus akan pengetahuan. Seperti rasa penasaran yang luar biasa membaca cerita-cerita silat maupun cerita lainnya. Tak sabar rasanya ingin melahap kelanjutan dari kisah sebelumnya. Edisi Chinmi ketika jadi jado billyard juga sangat menarik bukan? (Catatan : Chinmi tokoh utama dalam serial Kungfu Boy).
Atau menunggu-nunggu kapan kemunculan Sinto Gendeng atau si Tua Gila yang pasti dijamin heboh.

Itu saya. Bagaimana dengan Anda?
Salam baca buku.




Daftar Blog Saya