Rabu, 29 Maret 2017

Membaca Buku Aneka Ramuan Berkhasiat dari Temu-Temuan

Aneka Ramuan Berkhasiat, Temu-Temuan
Kulihat sebuah buku tipis berjudul Aneka Ramuan Berkhasiat dari Temu-Temuan yang disusun oleh Sardhi Duryatmo. Di sampul dalam depan tertulis tahun terbit 2010 Cetakan pertama, Puspa Swara Jakarta.

Menarik di bagian prakata tertulis bahwa dosis penggunaan obat-obatan herbal, sebagai warisan leluhur tidaklah melalui penelitian atau penemuan. Tetapi dosis ini dipengaruhi oleh latar budaya atau kepercayaan. Misalnya angka tujuh pada dosis diartikan agar si penderita mendapat pertolongan atau pitulungan. Dalam bahasa jawa dibaca pitu. 

Dengan pengalaman sembuhnya si pasien dalam menggunakan obat-obatan herbal ini menjadi acuan untuk digunakan lebih lanjut dalam pengobatan modern. Informasi yang turun menurun ini dan menyebar ke segala penjuru ini ada dampak negatifnya, misalnya kesalahan dalam melakukan peracikan. Untuk itulah buku ini tersebut ditulis agar warisan nenek moyang ini, khususnya mengenai kegunaan rimpang dan temu-temuan dapat menjadikan buku ini sebagai salah satu referensi.

Ketepatan dosis sebenarnya menjadi masalah tersendiri. Tidak selamanya jika dosis bertambah maka akan selalu berdampak positif. Boleh jadi dosis yang berlebih malah menyebabkan jiwa penderita terancam. Pemberian dosis yang tidak tepat ini terasa sekali jika menggunakan obat-obatan tradisional tetapi dalam bentuk ekstrak. Hal ini berbeda sekali jika ramuan yang diberikan hanya melalui proses perebusan.

Anjuran pemakaian dosis yang tepat ini bukan perkara mudah. Nenek moyang dulu belumlah mempunyai ukuran yang akurat maupun berlaku standar (misalnya dalam gram maupun ons). Ukuran yang digunakan bisa saja dalam bentuk genggaman orang dewasa, bisa juga seukuran jari, seukuran telur ayam mapun pakai ukuran lembar seperti 3, 7, atau 11 lembar.

Angka-angka 3, 7, atau 11 lembar ini tidak melewati penelitian yang mendalam, tetapi arti/makna yang terkandung di dalam angka-angka tersebut sangat dalam. Tiga, maknanya agar si penderita mendapatkan petulungan atau pertolongan setelah mengonsumsi ramuan. Angka tiga ini, dalam bahasa jawa disebut telu. Angka 11 harapannya agar si penderita segera mendapat pitulungan atau pertolongan. Dalam basa jawa disebut pitu. Begitu juga angka 11, yang berarti kawelasan atau belas kasih. Dalam bahasa Jawa disebut sewelas.

Temu-temuan ini meliputi berbagai jenis seperti temugiring, temuhitam, temukunci, temulawak, temumangga, dan temuputih. 
  1. Temugiring berkhasiat untuk mengobati cacingan pada anak-anak, campak, pengapuran lutut. 
  2. Temuhitam berkhasiat untuk mengobati askariasis/cacingan, epilepsi (ayan), berbagai penyakit kulit (borok, kudis, dan ruam), malaria, membersihkan darah nifas, menambah nafsu makan (pada anak-anak maupun dewasa), dan memperlancar ASI. 
  3. Temukunci berkhasiat untuk mengobati batuk kering, kurap, perut kembung. 
  4. Temulawak berkhasiat mengobati sakit ambeien, mengatasi bau badan, bisul, cacar air, eksem, jerawat, maag, malaria, dan menambah nafsu makan (pada orang dewasa).
  5. Temumangga berkhasiat untuk mengobati ambeien, asam urat, keputihan, menghaluskan kulit, kista, maag, kolesterol dan mencegah stroke. 
  6. Temuputih berkhasiat untuk mengobati gondok, kanker otak, kanker payudara, kanker usus, thyroid, tumor kandungan, tumor lidah.
Detail mengenai kandungan yang terkandung dalam temu-temuan tersebut serta cara meramunya bisa membaca secara detil pada buku Aneka Ramuan Berkhasiat dari Temu-Temuan ini.

Salam baca buku

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Daftar Blog Saya