Senin, 23 Februari 2026

Suara Perih Perempuan: Sebuah Refleksi tentang Pilihan dan Kemanusiaan

Suara Perih Perempuan: Sebuah Refleksi tentang Pilihan dan Kemanusiaan


Menemukan buku berjudul "Suara Perih Perempuan: Lesbian dan Kawin Bule" adalah sebuah ketidaksengajaan yang menarik. Saat itu, sekitar tahun 2012 atau 2013, dalam sebuah pameran buku di kota saya—salah satu hobi yang selalu saya sempatkan di sela kesibukan sebagai pendidik. Biasanya, saya berburu buku komputer, motivasi, atau pendidikan. Namun kali ini, ketertarikan saya pada tema feminisme menuntun saya pada novel ini.

Sania: Pertarungan Melawan Diri dan Stigma

Novel ini berkisah tentang Sania, seorang wanita yang digambarkan sangat perkasa namun harus menjalani hidup yang "berbeda". Ia adalah sosok yang berani mengambil jalan yang tidak lazim di mata masyarakat: menjadi perempuan yang merindukan sejenisnya.

Kehadiran dua pria asing (bule) memberikan harapan sekaligus dilema baru. Pertanyaan besar yang muncul adalah: akankah ia tetap bertahan dengan identitasnya, atau kembali ke garis heteroseksual, atau bahkan terjebak dalam pusaran poliandri?

Sania bukan sekadar tokoh fiksi; ia adalah representasi dari pertarungan batin manusia. Ia melawan masa lalu, ego, rasio, dan harga diri. Ia berdiri di tengah gempuran norma gender, agama, dan kenyataan pahit yang menimpanya.

Menggugat Pandangan Masyarakat

Dalam narasi buku ini, Sania seringkali dianggap "binatang" oleh lingkungan sekitarnya. Sebuah label yang menyakitkan karena ia dianggap menyalahi kodrat. Masyarakat, bahkan sesama perempuan, tidak hanya membencinya tetapi juga menyimpan kekhawatiran yang mendalam—takut jika langkahnya akan menular.

Namun, buku ini juga memberikan perspektif lain tentang realitas perkawinan. Memang banyak perempuan yang bahagia dengan pernikahannya, namun tak sedikit pula yang hanya bisa pasrah. Bagi kelompok yang terakhir ini, kepasrahan kepada suami dianggap sebagai bentuk pengabdian tertinggi, meski batin mungkin merintih.

Kesimpulan: Pilihan yang Bukan Cita-Cita

Satu hal yang sangat menyentuh dari buku ini adalah pemahaman bahwa menjadi lesbian bukanlah sebuah cita-cita yang direncanakan. Ia adalah hasil dari kompleksitas perjalanan hidup, luka masa lalu, dan pencarian identitas yang perih.

Membaca ulasan ini di era sekarang, di mana kita sering berinteraksi dengan keberagaman melalui media sosial dan teknologi (KKA), mengingatkan kita akan pentingnya empati. Sebagai pendidik, memahami berbagai sisi kemanusiaan—meski itu kontroversial—membantu kita untuk lebih bijak dalam melihat dunia yang tidak selamanya hitam dan putih.

Artikel ini merupakan reproduksi catatan literasi lama saya, dibagikan kembali untuk memperkaya khazanah pemikiran tentang kemanusiaan dan keberagaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Daftar Blog Saya

Comments

Postingan Acak

Pengikut

Back To Top