Guru Penggerak vs Guru Berjiwa Penggerak: Menghapus Dikotomi di Era Koding & AI (KKA)
Sebuah pertanyaan menarik muncul dalam sosialisasi Pendidikan Guru Penggerak (PGP): "Apakah di luar Guru Penggerak (versi program), ada yang namanya Guru Penggerak?" Pertanyaan ini mengingatkan saya pada keresahan para pendidik di media sosial. Banyak guru yang, meski tidak mengikuti PGP secara formal, telah lama menjadi motor penggerak bagi rekan sejawat dan siswanya. Fenomena ini memicu dikotomi yang kurang sehat—seolah-olah guru terbagi menjadi dua kasta: mereka yang bersertifikat PGP dan mereka yang tidak.
Mengapa Dikotomi Ini Berbahaya?
Terjebak pada istilah formal dapat menyebabkan kebanggaan berlebihan (over-pride) di satu sisi, dan rasa tersisihkan atau "nyinyir" di sisi lain. Padahal, esensi dari seorang penggerak tidak bisa dibatasi oleh sekat program atau angkatan.
Di era Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) saat ini, transformasi pendidikan menuntut fleksibilitas, bukan sekadar formalitas. Guru penggerak sejati ada di setiap sekolah, bekerja dalam senyap, memiliki jiwa pengabdian tinggi, dan selalu belajar melampaui batas kewajiban administratif.
Karakteristik Guru Penggerak Sejati
Seorang guru penggerak—baik yang bersertifikat maupun yang alamiah—memiliki ciri khas yang konsisten:
Dinamis dan Progresif: Mereka tidak mengulang pengalaman satu tahun sebanyak sepuluh kali. Sebaliknya, setiap hari adalah sejarah baru. Mereka mencari strategi agar pembelajaran tidak monoton, misalnya dengan memanfaatkan AI untuk personalisasi materi belajar.
Motivasi Intrinsik: Mereka bergerak bukan karena SK atau instruksi atasan, melainkan karena panggilan jiwa. Mereka peka terhadap suasana batin siswa dan selalu ditunggu kehadirannya di kelas.
Melihat Siswa dengan "Mata Baru": Bagi mereka, setiap siswa adalah individu unik yang tidak bisa dinilai secara fisik saja. Mereka mampu memahami diferensiasi belajar siswa, sebuah kemampuan yang sangat krusial di zaman sekarang.
Sinergi: Bukan Sertifikat, Tapi Aksi Nyata
Kita harus mengakui bahwa guru yang mengikuti PGP beruntung karena mendapatkan ilmu dan jaringan secara sistematis. Mereka adalah katalisator yang dibekali "senjata" tambahan. Namun, pengakuan formal ini membawa tanggung jawab moral: berbagi.
Sebaliknya, guru yang tidak mengikuti PGP—baik karena belum berkesempatan atau memilih jalur lain—tidak boleh merasa rendah diri. Mereka tetap bisa menjadi penggerak di ruang kelasnya masing-masing. Meninggikan diri karena merasa "penggerak alamiah" juga bukan sikap yang bijak. Kuncinya adalah membuka diri terhadap perkembangan baru.
Kesimpulan: Alternatif Ketiga
Tidak ada gunanya mempertahankan dikotomi. Baik Anda Guru Penggerak (PGP) maupun Guru Berjiwa Penggerak (Alamiah), kita semua berada di kapal yang sama untuk memajukan pendidikan Indonesia.
Seperti kata Stephen R. Covey, saat tidak ada titik temu antara dua pendapat, selalu ada Alternatif Ketiga—sebuah sinergi di mana kita saling mengisi dan berkontribusi tanpa merasa lebih tinggi satu sama lain. Di era KKA yang serba cepat ini, sinergi adalah satu-satunya jalan agar kita tidak tertinggal.
Mari terus bergerak, terus belajar, dan terus menginspirasi.
Salam Penggerak!
Penulis adalah pengamat pendidikan yang fokus pada pengembangan literasi digital dan integrasi Koding & Kecerdasan Artifisial (KKA) dalam pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar