Kamis, 19 Maret 2020

Melawan Hoaks dengan HOTS

Melawat Hoaks dengan HOTS

Kominfo Temukan 232 Hoaks, Salah Satunya "Jokowi Positif Virus Corona"

Oleh Fahmi Ahmad Burhan, 16 Maret 2020
Hoaks terkait virus corona naik 36 dalam empat hari. Menteri Kominfo sebut hoaks bahwa Jokowi positif covid-19 paling tidak pintar. 
.................................
Petikan berita yang didapatkan dari https://katadata.co.id/tags/hoaks menunjukkan besarnya hoaks yang berkembang di negeri +62. 
Berita hoaks tersebut tidak memandang bulu. Dari berbagai tema bisa dibuat hoaks.

Bagaimana sih cara melawan hoaks tersebut. Saring dulu  sebelum sharing. Setidaknya itu prinsip dasar agar hoaks tidak segera menyebar ke mana-mana. Tidak perlu latah untuk share sana share sini hal-hal yang kelihatan viral..aneh..tanpa melihat isi maupun sumber beritanya.

Berita hoaks ini bukan hanya menyebar saat sekarang ini. Cuma memang penyebarannya menjadi sangat cepat. Cukup dengan sentuhan ujung jari, berita tersebut langsung menyebar dengan cara cepat dan tanpa batas.
Dulu ketika internet belum mudah diakses atau ketika belum ada internet, berita hoaks menyebar lewat surat yang dikirim melalui kantor pos. Isi beritanya sangat menarik..tampak menyakinkan...tetapi diiringi ancaman. Jika mau mengirimkan berita tersebut ke 10 atau berapa orang yang dikenal, maka akan selamat bahkan akan mendapat rezeki tak terduga. Jika tidak ikut menyebarkan berita tersebut, maka akan mendapat celaka.

Bagaimana dengan era sekarang? Hampir sama. Bisa lewat sms, e-mail, WA, FB dan sebagainya. Jika tidak menyebarkan berita ini minimal 10 orang maka....Jangan biarkan info ini berhenti pada Anda...Sebarkan...Viralkan...dsb.

Bahasa-bahasa ajakan atau ancaman tersebut adalah ciri khas berita hoaks.
Ridwan Abdullah Sani (2019 : 15 - 34) menjelaskan manfaat berpikir kritis dalam menerima suatu infomasi. Misalnya ada pesan berikut seseorang dengan nomer tertentu mengirimkan pesan ke Anda yang intinya Anda diberi ucapan karena mendapatkan hadiah dari M-kios. Pertanyaan kritis yang bisa diajukan adalah apakah M-kios tidak rugi ketika memberikan hadiah tersebut? Berapa keuntungannya? Mengapa telkomsel (misalnya) tidak menggunakan nomor khusus? dst.
Kemampuan berpikir kritis/nalar/rasional akan dapat menyelamatkan orang dari tipuan semacam itu.

Berpikir HOTS (Higher Order Thinking Skill) atau kemampuan berpikir tingkat tinggi ini meliputi kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, menyelesaikan masalah, serta membuat keputusan.

Kembali ke berita di atas, bagaimana analisisnya :
1. Di situ dikatakan bahwa kurma agar dicuci sebersih-bersihnya, padahal jika kurma tersebut mengandung virus korona maka membersihkan kurma tersebut tidaklah cukup.
2. Virus corona tersebut, menurut para ahli menular lewat udara khususnya dari bersin dan batuk orang yang terinfeksi. Penularan lewat konsumsi makanan, dalam hal ini melalui kurma impor tidak dapat dibuktikan.
3. Virus corona pada kelelawar berbeda jenisnya dengan virus corona pada manusia. Belum ada bukti yang kuat bahwa manusia terinfeksi dari kelelawar yang mengandung virus corona. Kalau virus berpindah ke binatang lain seperti unta sangat mungkin tetapi bukan ke manusia.

Lepas dari benar atau tidaknya analisis di atas, pada dasarnya kita tidak boleh mentah-mentah menerima informasi dan buru-buru menyebarkannya. Alih-alih ingin berbuat kebaikan tetapi sebenarnya malah menyebarkan keburukan berupa berita bohong.

Orang yang literat akan menerima informasi dengan hati-hati, melakukan proses penalaran, sebelum akhirnya mengkomunikasi kepada orang lain. 

Meski belum tuntas pembahasan mengenai melawan hoaks dengan HOTS ini, tetapi setidaknya ada gambaran bahwa dengan menggunakan nalarnya kita dapat menganilis setiap berita/konten apapun sebelum mengkomunikasikan/menyebarkan kepada orang lain.


Sumber internet :
https://nasional.kompas.com/read/2019/05/07/11083651/hoaks-kurma-timur-tengah-mengandung-virus-corona-dari-kelelawar?page=2




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Daftar Blog Saya