Sabtu, 24 Oktober 2020

Bagaimana menjadi Coach yang Baik

 

Baru mengenal istilah coach dan ingin menjadi coach yang baik, bisa jadi sebuah hal yang tergesa-gesa. Ataukah sebaliknya karena ingin menjadi coach yang baik maka akan lebih banyak lagi menggali berbagai istilah, teori, teknik, contoh, tokoh/figur, dan berbagai hal tentang coaching.

Dari beberapa sumber yang kudapatkan baik dari salah seorang narasumber maupun dari bacaan lain, baru sedikit kumengerti bahwa coaching itu beda banget  mentoring, konsulting, training, konseling, dan pendampingan yang lain.

Seorang coach harus mampu mendampingi seorang coachee agar mampu mencapai tujuan/target/harapan coachee tersebut. Tentunya tujuan/target/harapan coachee tersebut harus muncul dari coachee sendiri. 

Kalau begitu di mana peran coach?
Ya...ketika dihadapkan dengan seorang coachee, harapannya adalah apa yang selama ini seperti buntu akan terlihat jalan keluar. Yang selama ini terlihat gelap akan menjadi terang benderang. Ibarat benang kusut atau benang bundet maka akan teruari, terlihat ujung dan pangkalnya.

Hal ini tentu bukan pekerjaan mudah karena yang menjadi fokus adalah coachee-nya. Si Coach memicu atau memancing kesadaran atau membantu cara berpikir coachee agar paham apa tujuan yang akan dicapai.

Si coachee ini diharapkan dapat memecahkan masalah mereka sendiri, berani mengambil resiko, berani membuat keputusan sekaligus berani menghadapi tantangan baru.

Untuk mewujudkan hal tersebut peran seorang coache adalah membantu si coachee untuk mengembangkan keahlian mereka sendiri tetapi dalam hal ini bukan mengajarkan hal baru/teknis seperti sebagai seorang mentor. Si coach memancing agar si coachee ini memiliki target yang lebih menantang. Otomatis keahlian mereka akan meningkat.

Misalnya ada seseorang yang memiliki keahlian di bidang seni bela diri. Selama ini dia menjadi juara yang tak terkalahkan di berbagai kompetisi. Sudah sampai titik jenuhnya sehingga dia merasa tidak perlu apa-apa atau kehilangan motivasi untuk mengembangkan dirinya lebih jauh.

Di sinilah peran coach, membantu dia agar memiliki target berbeda yang lebih menantang, yang membuat dia lebih mau belajar, mampu meningkatkan dirinya. Semisal menaikkan targetnya menjadi juara pada berbagai kompetisi yang lebih tinggi. 

Boleh jadi selama ini dia selesai pada targetnya atau merasa puas dengan apa yang dicapai. Tetapi sebenarnya potensinya belum maksimal. Dia tidak membutuhkan bantuan teknis apapun. Tetapi perlu dibantu agar memiliki target/tujuan yang lebih yang dicapai sekarang.

Seorang coach ini harus memberikan dukungan ketika si coachee ini mempratikkan kemampuan atau potensinya. Si coach ini akan selalu mengevaluasi perkembangan si coache secara bersama-sama. Jadi selalu ada perubahan/kemajuan.

Sesi coaching sendiri tidak ada artinya jika tidak ada perubahan perilaku dari si coachee. Harus ada aksi nyata yang akan selalu dipantau si coach sebagai bahan untuk melakukan coaching pada saat berikutnya.

Di akhir coaching ini, ada sebuah komitmen untuk berubah. Target/tujuan sudah dibuat, pilihan-pilihan dihadirkan, potensi yang dimiliki sekarang sudah diperjelas. Tinggal aksi nyata yang akan dalam perkembangannya akan dipantau oleh seorang coach.

Jadi, bagaimana cara menjadi coach yang baik?
Dari gambaran peran coach di atas bisa tersirat, kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang coach adalah :
- menjadi pendengar yang baik
- memiliki teknik bertanya yang bagus 
- mampu membangun kepercayaan
- membantu membuat tujuan (bukan menentukan tujuan)
- mampu memonitor, mengevaluasi dan memberikan umpan balik

Kira-kira begitu ya. Untuk teknisnya nanti kita belajar bersama-sama



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Daftar Blog Saya