Minggu, 25 Oktober 2020

Matinya Sang Sutradara


Sutradara, acapkali diartikan sebagai seorang yang suka mengatur/memerintah serta bisa melakukan segala hal. Stigma ini pun bisa jadi dianggap benar oleh sang sutradara itu sendiri. Sehingga dia benar-benar bertingkah sebagai bos (baca : tukang perintah) serta akan merasa marah/tersinggung ketika yang lain terlihat lebih pintar darinya. Ini sebuah penyakit yang seharusnya sudah disembuhkan lama.

Artinya ketika seorang menjadi sutradara tidak boleh terlalu terbebani dengan hal-hal yang memang tidak dikuasainya. Misalnya mencontohkan suatu adegan. Diapa-apakan wong aktingnya jelek ya tidak bisa dijadikan sebagai contoh. Kecuali ada yang sableng dengan menganggap bahwa apapun yang dicontohkan sutradara itu pasti contoh yang salah, jadi jangan yang itu pokoknya. 

Sialnya juga ketika ada pemain yang ingin nge test (baca : mempermalukan) kemampuan akting sutradara tersebut. Atau seorang pemain yang tidak merdeka dalam arti apa-apa minta diberikan contoh. Kalau yang ini, mending rubahlah peran pemain itu menjadi penonton saja.

Ketika peran sutradara dikembalikan lagi sesuai proporsinya, saya yakin pementasan apapun akan berjalan dengan lebih nyaman. Sutradara tak terlalu sering terlihat otoriter dan pemain pun bisa bebas mengekspresikan diri dengan lebih leluasa. Tentunya seorang sutradara kadang harus otoriter ketika ada pemain yang begitu ingin bebasnya menafsirkan teks/naskah. Misalnya seorang pemain berperan sebagai Arya Penangsang kok malah membunuh Ngabehi Lorin Pasar ya rusak ceritanya. Atau Arya Penangsang menjadi raja Pajang sedangkan Jaka Tingkir mengalah menjadi pengembara, wah sangat mungkin kerajaan Mataram tidak pernah berdiri.

Seorang sutradara, seberapa besar perannya dalam menyiapkan sebuah pertunjukkan dari penentuan naskah, bedah naskah, casting sampai melakukan gladi bersih, akan tidak dipakai lagi perannya saat pertunjukkan sudah berlangsung. Boleh jadi, saat pertunjukkan sang sutradara lagu ngopi sendirian di belakang rumah tapi pikirannya terpusat pada pelaksanaan pertunjukkan itu. Bagaimana harus menata hati, berharap besar agar pertunjukkan menjadi lancar. 
Karena memang harus disadari, perannya sudah berakhir. Saat itulah kematian sang sutradara terjadi.

Pandangan yang sangat keliru ketika menganggap sutradara selalu hidup. Dari awal penentuan naskah, pertunjukkan, bahkan sampai pasca pertunjukkan. 
Situasi yang dihadapi pemain saat pertunjukkan hanya pemain yang tahu. Seorang state manager pun hanya mengatur kapan pemain itu muncul tetapi tidak akan bisa mengendalikan situasi saat pemain sudah tampil. Bolehlah menggunakan kode-kode tertentu tetapi tidak banyak hasilnya saat seorang pemain sudah all out tampil.

Diberikan contoh kecil, misalnya seorang pemain yang harusnya melakukan adegan melompat ternyata di depannya ada pecahan beling/pinus tercecer atau lantai panggung basah. Yang berakibat dia akan mengalami resiko jatuh/kecelakaan. Dalam hal seperti ini apa yang akan dilakukan pemain? Apakah akan nekat melompat atau membuat improvisasi. Mengikuti sutradara atau menyesuaikan diri dengan realitas sosial yang dihadapi. Apapun pilihannya memang mengandung konsekwensi. Mempertanggungjawabkan pengubahan aktingnya atau menanggung resiko cedera?

Demikian juga, jika sutradaranya tahu ternyata pemain tersebut tidak melakukan adegan melompat apakah akan memarahi habis-habisan atau akan melakukan verifikasi atau menanyakan tindakan pemain itu.

Tetapi apapun respon sutradara terhadap segala adegan yang dimainkan, saat pertunjukkan dia sebenarnya sudah mati. Jadi..tenang saja, saat pertunjukkan berlangsung sebagai sutradara bisa leyeh-leyeh...menata hati dan pikiran atau bahkan langsung menyiapkan pertunjukkan selanjutnya.

Apapun kekhawatiran dan hasilnya ....segera move on ya (nasihat buat para para calon sutradara atau sutradara pemula).

Catatan : oleh-oleh Workshop Teater Purbalingga 2020 + penafsiran sendiri





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Daftar Blog Saya